Hai.. Thanks yach udah mau ngintip blog aku..

My Profile

Foto saya
Banjarmasin, Kal-Sel, Indonesia
Aku anak ke empat dari 4 bersaudara. Dengan ke tiga kakak yang semuanya laki-laki. Meski cukup sulit untuk saling akur satu sama lain.

Familiy

Kamis, Maret 19, 2009

Tuhan Tolong

ku rasa getaran cinta
di setiap tatapan matanya
andai ku coba tuk berpaling
akankah sanggup ku hadapi kenyataan ini

reff:
oh tuhan tolonglah aku
jangan lah kau biarkan diriku
jatuh cinta kepadanya

sebab andai itu terjadi
akan ada hati yang terluka
tuhan tolong diriku

walaupun terasa indah
andaikan ku dapat juga dirinya
namun ku harus tetap bertahan
menjaga cinta yang tlah lebih dulu ku jalani

repeat reff

sebab andai itu terjadi
akan ada hati yang terluka
tuhan tolong diriku

repeat reff

tuhan tolong diriku

sebab andai itu terjadi
akan ada hati yang terluka
tuhan tolong diriku

Karena Shalat Ia keluar dari peti

Pernah aku terpaku saat membaca sebuah buku kumpulan kisah-kisah Shalat Tahajut yang salah satu isinya berjudul ‘Karena Shalat Ia Keluar dari Peti’ karangan M. Jawad Mehry dan Qasim Mir Khalaf Zadeh. Ceritanya begini.

Diriwiyatkan bahwa ; “Sekelompok penduduk Yaman datang menghadap Rasulullah saw, dan berkata; “Kami adalah keturunan seorang raja yang mana Ia juga termasuk keturunan Nabi Nuh as, di dalam kitabnya tertera bahwa setiap nabi pasti memiliki muk’jizat dan Washi. Hai Rasulullah, siapakah Washi dan penerus anda?”

Rasulullah saw mengisyaratkan kepada Amirul’ Mu’minin sambil bersabda, “Inilah Washiku

Mereka berkata; “Ya Rasulullah, bersama kami sebuah kitab yang tertulis sifat dan penjelasan serta karakter dan tanda-tanda Sam putera Nuh dan diantaranya juga di jelaskan tentang kuburnya apabila anda dapat menunjukkannya pada kami niscaya kami akan beriman kepada anda.”

Rasulullah saw bersabda; “Ya Ali! Bangunlah dan pergilah ke masjid bersama mereka dan shalatlah dua rakaat agar masalah mereka menjadi jelas.” Amirul Mu’minin melakukan apa yang di perintahkan Rasul kepada beliau, beliau lalu pergi ke masjid lalu mengerjakan shalat dua rakaat dan berucap sesuatu, tiba-tiba mereka melihat bumi terbelah dan tampak sebuah peti dan di dalam peti itu tampak seorang kakek yang bercahaya berjanggut panjang bangun dari petinya lalu mengucapkan salam kepada Amirul Mu’minin dan berkata, “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah SWT, Muhammad adalah utusan-Nya dan penghulu para rasul dan engkau adalah Ali Washi Muhammad [saw] aku adalah Sam putera Nuh

Mereka membuka kitab dan tulisan mereka sambil melihat bentuk serta karakter Sam, mereka mendapatkan kecocokkan dengan gambaran Sam dengan yang ada dalam kitab mereka, kemudian mereka berkata, “Kami ingin mendengar dari anda sedikit tentang shuhuf Nabi Nuh”

Sam putera Nabi Nuh mulai membaca shahifah Nuh serta membaca satu surat lengkap. Setelah itu Ia mengucapkan salam kepada Amirul Mu’minin dan kembali ke dalam peti seperti semula, dengan serta merta mereka berkata, “Seseungguhnya Islam adalah Agama yang di terima di sisi Allah, akhirnya mereka semua memeluk agama Islam.

Jika seandainya kita di tempatkan pada posisi kedua orang itu, apakah yang akan terjadi pada diri kita. Tentu saja akan tercengang dan kaget karena melihat jenazah yang sudah sekian tahun bangkit lagi dari kubur dan memberikan kesaksian serta penjelasan kepada kedua orang tersebut. Hikmah dari cerita tersebut sudahlah jelas bahwa tak hanya manusia yang mampu dan berani bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad saw adalah utusannya, tetapi juga jenazah yang sudah ratusan terkubur di bumi Allah. Sungguh besar ke Kuasaan Allah diatas langit dan segala isinya. Subhanallah...

'Pink'

“Suiiit!!! Hehehe …!”

“Gile, cing! Cantik banget!”

“Buset …! Senyumnya itu …”

“Ssst, anak mana sih dia? Baru, ya?”

“Pindahan kali. Belum pernah lihat, sih!”

Benar-benar pemandangan yang mengesankan pada pagi hari.

Saat sekolahbelum terlalu rami, di bawah rimbunnya pohon beringin yang tumbuh di tepi lapangan upacara, seorang gadis melintas. Wajahnya mengingatkan pada seorang selebritis muda yang sering muncul di televise. Alisnya melengkung rapi, menaungi sepasang mata yang jenaka. Sepasang lesung pipit muncul setiap kali senyumnya mengembang. Rambutnya terurai hitam dan halus, membingkai indah wajah pualamnya. Entah siapa yang berjumpa dengannya pasti akan berpendapat sama. Bahwa, seolah Tuhan memahat khusus wajahnya dengan sempurna.

“Sok banget dia!” sembur Nesya. Mulutnya menebal beberapa mili.

“Sok ramah lagi,”Luna menimpali. Duet terpanas tahun ini saling mengompori.

“Berlagak innocent padahal dibelakangnya huuu... siapa tahu?!”

“Tunggu aja beberapa lama, pasti pamornya juga turun.”

“Duilee...” Nada muncul tiba-tiba mnyeruak. “Penyakit kambuhan para cewek. Cemburuan!” sambungnya.

“Ups, sorry la ya!” Nesya mendelik. “Nggak bakal senior iri sama yunior. Lagian, tampangnya nggak cakep-cakep amat, kok. Cuma menang putih doang!”

“Tapi tetep menang, kan?” goda Nada.

“Kamu santai amat sih. Nad. Tunggu sampai dia main lirik-lirikkan sama Ade.”

Senyum di wajah Nada lenyap. Rahangnya menegang kaku.

“Kalau sampai dia berani, ... awas!”

Bertiga mereka memandang sosok gadis yang berjalan pelan memasuki kelasnya di deretan paling ujung. Kalau saja Dia sempat mengawasi tifa pasang mata milik Nesya, Nada, dan Luna Ia pasti bergidik. Ibarat penyihir yang bersiap mengubah mangsanya menjadi kodok.

SMU Utama saat ini sedang di terpa gosip. Kalau biasanya kabar burung berkisar seputar kisi-kisi ulangan umum, guru yang kolusi dengan murid bimbingan les, siswa yang masuk lewat jalur ‘belakang’, maka sekarang tambah satu lagi berita hangat. Apa saja yang terjadi di SMU Utama, merupakan santapan panas yang nikmat di dengar telinga. Termasuk gadis baru pindahan dari Jakarta, Pink. Pink Jessica.

“Mau taruhan?” Danu bertanya pada teman-temannya, para penghuni kelas II-I. Anak-anak dari kelas lain turut bergabung mencari keramaian. Obrolan di kalangan cowok pun tak beda jauh.

“Taruhan apa?”Bimo mengerutkan kening.

“Siapa yang dapat memikat Pink,” Danu menggulirkan ide. Para cowok menajamkan pendengaran mereka masing-masing. “Kita belikan tiket nonton gratis selama sebulan tiap minggunya, untuk dua orang.”

“Aku rasa tanpa iming-imingpun tiket gratis pun setiap cowok bakal mau punya pacar sekece Pink,” Tris terkekeh.

“Ngomong-ngomong dia udah punya pacar belum?” Zaki melontarkan pertanyaan.

“Alaaa… cuek aja,”Dio angkat bahu. “Sudah punya pacar atau belum tetap terbuka kesempatan. Yang penting kita bersaing sehat.”

Mereka saling merapatkan kepala seakan membicarakan sebuah rahasia.

“Bener, ya?” bisik Yanto. “Kita bersaing sehat, lho! Nggak ada yang boleh dendam, atau main pukul-pukulan kalau di antara kita ada yang sukses!”

“Oke!”

“Beres!”

“Siiip! Setuju!”

***

Perburuan pun dimulai.

Seperti cerita legenda lama yang mengisahkan para pangeran yang berebut putrid dengan mengikuti sayembara, begirulah perburuan memikat hati Pink. Gadis imut yang sedang di gandrungi anak-anak SMA Utama mulai dari cowok kelas satu hingga kelas tiga.

Ada yang sering menelpon, ada yang rajin mengirim SMS. Mengirim lagu lewat Radio, mengirim surat bahkan ungkapan cinta abadi yang tak pernah usang say with roses.

Tetapi, tampaknya senyum Pink tetap terbuka untuk semua orang. Untuk setiap cowok yang memandangnya dengan hati kesetrum, senyum yang juga teruntuk bagi kalangan cewek yang menerimanya dengan hati berdenyut masam. Tak seharipun terlewatkan di SMU Utama tanpa pembicaraan tentang Pink.

Pink yang kemarin berangkat bimbinga les. Pink hari ini pilek. Kemarin, bertemu Pink di jalan. Pink mau berangkat berenang. Pink berniat kursus bahasa Mandarin. Orangtua Pink di Jakarta.

“Nggak ada habis-habisnya tuh orang,” sungut Nesya. Semakin hari, bibirnya semakin tebal menggerutu.

“Siapa?!” Luna berlagak bego.

“Siapa lagi!”

“Lho? Kok, pagi-pagi aku kena semprot?” Luna semakin memasang tampang tak tahu.

“Anak baru itu...!”

“Mana ada anak baru sih?”

“Aduh kamu,” Nesya memandang gemas. Sohibnya sudah ketularan Nada yang suka usil. “Ya si Pinky Jessica itu”

“Diakan udah stok lama, lagi...”.

Nesya mendengus.

“Hanya karena dia flu dan nggak masuk sehari aja, cowok-cowok keganjenan itu ributnya bukan main,” Nesya melanjutkan umpatannya. Hatinya perih sekaligus kesal mengingat Ia sempat absen seminggu karena demam paratipus tak satupun teman menjenguknya. Maksudnya teman cowok. Kalau Luna dan Nada sih, iya.

“Ngomongin dia melulu rugi, Nes” Luna menentramkan. “Mending kamu belajar Kimia buat ulangan nanti.”

Nesya menarik napas panjang.

“Katanya anak itu jago kimia,” desahnya. Luna terpekur dengan buku konfigurasi elektronnya.

“Bukan Cuma kimia,” Nesya malas membuka catatan. “Fisika dan matamatikanya oke. English-nya juga gape.”

Berdua, mereka lalu tenggelam dalam buku masing-masing. Pagi itu SMU Utama masih berselimut dingin. Maklum, tadi malam hujan deras mengguyur. Saat matahari terbit pun masih tersisa rintik. Tak heran jam tujuh kurang lima hanya sedikit yang berebut bangku. Pasti bila terlambat alasannya sama, hujan. Dan, Pak Probo yang mengisi jam pertama dengan matematika akan memberikan nasihat sama. “Dahulu, tidak pakai sepatu pun saya berangkat sekolah tak peduli panas hujan. Anak sekarangmalas-malasan! Ada mobil, ada sepeda motor, punya sepatu, apalagi tas dan seragam tetap saja malas. Mau jadi apa kalian?” wajahnya yang keriput makin tampak terlihat sedih.

“Kira-kira, dia malah siapa buat di jadikan pacar, ya?” Nesya memandang Luna yang tengah berkomat-kamit di sampingnya.

Luna mengangkat kepala tetapi menatap lurus ke papan tulis. Sedetik kemudian, matanya terpejam dengan mulut tetap bergerak-gerak.

“Apa Danu? Atau Zaki? Tris? Atau ...”

“Astagfirullaaaah ... Nesya,” Luna memotong kesal. “Kamu juga cari penyakit. Ngapain lagi sibuk ngomongin dia? Biar aja dia di konsumsi cowok, tapi nggak usah kita ikut-ikutan.”

Nesya menghentikan pengaduan, tetapi bukan berarti rasa kesalnya terhenti. Ia menutup buku catatan setengah membanting. Semenit dai keseriusan mereka kembali belajar. Nada melangkah masuk dengan wajah sembap. Nesya dan Luna berpandangan dengan alis terangkat.

“Sudah siap, Da? Luna mencoba membuka pembicaraan.

Nada menggeleng lemah.

Lho, tapi kamu tahu kan hari ini ada ulangan kimia?” Nesya mengerutkan kening.

Nada tersenyum samar.

Sesaat sebelum bel masuk berdentang Luna tak dapat menyembunyikan rasa penasaran.

“Kamu ada masalah?” Nada terdiam.

“Dengan Ade ya?” Nada hanya memandangnya sedih.

“Anak brengsek itu ikut taruhan teman-temannya untuk mendapatkan Pink.” Ujar Nada tersendat.

***

Tris membanting tasnya. “Aku gagal, Men!” ujarnya kaku. Danu, Zaki, Ade, dan Yanto berkerumun ingin tahu.

Memang gimana ceritanya?” Danu melipat dua lengannya di depan dada. “Kamu di tolak?”

“Nggak tepat begitu ...” Tris menggelengkan kepala.

“Terus?”

“Yaaa ... dia bilang nggak mau pacaran untuk saat ini,”Tris menjelaskan. “Mau konsentrasi belajar dulu.”

“Itukan lagu lama cewek,”Ade tersenyum simpul. “Kalau belum ketemu yang dia suka, ada aja alasannya”

“Begitu ya?” Tris mengepalkan tinjunya geram. “Jadi pingin lihat, seperti apa seleranya Pinky.”

“Ingat, jangan melibatkan emosi.”Danu mengingatkan.

“Iya, iya,” Tris memotong gusar. “Aku bukannya ingin berantem. Cuma penasaran aja.”

Danu mengangkat bahu.

“Ya sudah,” Ia menepuk bahunya. “Santai aja, Tris. Cari cewek lain.”

Tanpa direncanakan, beberapa pasang mata itu tertuju serempak ke arah Danu.

“Lho? Kenapa?

“Kamu belum mencoba, Nu

“Iya. Hanya kamu yang belum mencoba mendekati cewek itu. Dano terdiam.

“Aku kan nggak modal, Ia teringat kesehariannya yang hanya naik bus kota dan sepatu kets hitam warisan abangnya.

“Kita kan sepakat untuk bersaing tantang Zaki.

Tris mengangguk setuju.

Dua bulan lalu.

Danu belum rajin ke mushalla. Sesekali saja tempat mungil yang rapi dan wani di ujung sekolah itu menjadi tempat persembunyiannya untuk melarikan diri dari hukuman guru jika lupa mengerjakan tugas. Atau, Menjadi tempat nyaman untuk tidur saat waktu istirahat karena mengantuk semalaman begadangmenonton Liga Italia.

Saat itu, sesekali matanya tertumbuk pada artikel di dnding. Terkadang geli juga membaca anekdot atau goresan gambar kartun di sana. Anak-anak mushalla ternyata tidak kampungan. Gaul. Malah, ada gosip seputar sekolah yang enak di baca. Anatara lain, profil guru dan kisi-kisi soal. Jadinya, tidak sibuk membolak-balik buku saat di umumkan minggu depan akan di adakan ulangan. Lama kelamaan, Ia sadar tentang ide gilanya mengenai perburuan Pinky. Tapi yah, Ia terlanjur menggulirkannya.

Padahal beberapa hari lalu, hatinya tergelitik membaca artikel sepuluh kerugian berpacaran. Satu, rugi keuangan. Pintar cari uang aja belum, sudah mau ngasih makan (baca:mentraktir) anak orag. Dua, rugi waktu. Waktu yang bisa di gunakan untuk bersantai(nonton bola, misalnya) habis untuk memikirkan si dia lagi ngapain. Tiga, rugi masa depan. Mending buat mempersiapkan diri masuk PTN favorit dari pade ngajak-ngajak si die sepanjang jalan kenangan. Empat, rugi harga diri. Kalau adik atau emak yang ngambek kita sudah balik ngamuk. Eh, giliran si dia marah-marah karena ban motor kempes misalnya, si cowok adem aja.

“Hei Dan?!”

“Ngelamun, ni yee!”

“Sudah ngebayangin malam minggu nanti bakal keluar sama Pink, Ade menonjok bahunya pelan. “Taruhan lima puluh ribu, uang mingguanku, kalau kamu bisa ngajak dia keluar nonton film.

Danu hanya melongo.

***

Pinky Jessica.

Gadis cantik anak SMU Utama yang terkenal tidak hanya di sekolahnya sendiri, tetapi juga ke sekolah-sekolah lainnya. Apalagi SMU Utama memang di nilai sekolah favorit. Tidak hanya murid-muridnya jago dalam prestasi akademis, tetapi juga dalamberbagai kegiatan eskul. Makanya, Danu bersyukur dapat masuk ke SMU ini setelah melewati seleksi NEM yang ketat.

Danu pada akhirnya memberanikan diri endatangi tempat kost Pink saat malam minggu berbekal nekat. Ia punya bekal apa? Mobil tidak punya. Boro-boro HP, telepon di rumahnya pun sering nunggak. Danupun merasa wajahnya tidak kece-kece amat.

Malam minggu itu, Danu mendatangi Pink. Ia harus bersaingdengan banyak pemuda. Akhirnya dia berhasil mengajak Pink jalan-jalan. Satu hari dalam hidupnya yang tidak akan pernah dia lupakan sepanjang hidupnya.

***

Najma membetulkan letak jilbabnya.

Siapa yang minggu pagi begini sudah datang bertamu? Sekilas di liriknya jam dinding. Memang sudah jam sembilan lewat seperempat, tapi seingatnya tak ada janji dengan siapa punhari ini. Kecuali memang rencana siang nanti rujakan bersama teman-teman rohis sekalian mengerjakan Mading.

Najma benar-benar terkejut melihat sosok di hadapannya. Teman sekelas yang tak terlalu dekat dengannya.

“Da … nu?”

“Sorry …,” Danu tampak gugup. “Kaget ya?”

“Ya.. ya..,” Najma benar-benar surprised.

“Aku tadi ke rumah Tris sama Yanto, cari pinjaman buku Fisika. Hari rabu kita ulangan, kan?”

Najma mengangguk, tetap belum berkata apa-apa.

“Ada?”

Alis mata Najma terangkat sejenak.

“Oh ya, ada. Tapi catatanku tidak terlalu rapi, banyak coretannya.” Danu hanya tersenyum,

“Nggak apa-apa. Tapi boleh pinjam kan?”

Najma masuk ke kamar mencari buku Fisika. Ia menyerahkan catatan dengan dahi sedikit berkerut.

“Sebenarnya ... “Danu ragu sejenak. “Aku ... aku sudah pinjam sama Pink”

“Ooooh, anak pindahan dari Jakarta yang cantik itu...” Danu mengangguk pelan.

“Terus?”

“Yaaa, aku memang perlu catatan Fisika. Ku dengar dia ikut bimbingan belajar di beberapa tempat.”

Kalau begitu catatanya pasti lengkap” ujar gadis itu. “Sebetulnya, aku juga sekelas dengannya di bimbingan belajar. Pasti catatanku dan Pink nggak beda jauh”

“Pasti beda” Danu menegaskan. “Bagaimana Pink sebenarnya?”

“Pink gadis yang cantik. Sangat cantik. Selain itu orangnya hangat, enak di ajak ngobrol, ramah, dan nggak sombong” ujarnya. “Juga sangat pintar” Danu menambahkan.

“Kamu tahu kalau dia sering ke SLB atau rumah panti asuhan tiap hari minggu?” Danu bertanya saat Najma kembali dengan dua buah gelas sirup.

“Oya?”

“Ya, menyisihkan sedikit uang sakunya untuk anak-anak malang disana.” Najma berdecak.

“Apalagi predikat yang bisa kita tambahkan?” tanyanya pada Danu. “Pintar, cantik, kaya, berhati malaikat”

“Hanya sayang ..” Danu memukul lututnya sendiri.

“Sayang?!”

Ya, sayang. Gadis secantik itu. Sebaik dia.

Najma mendengarkan dalam diam.

Aku terpojok ketika dia menjawab pertanyaanku untuk apa rajin bermain ke panti asuhan.

“Apa katanya?

“Kita harus menyebarkan kasih Tuhan.

Najma menahan senyum. Jadi Danu baru tahu., bisik hatinya.

“Aku terkejut ketika meminjam catatannyaDanu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Di sampul depan tertulis kalimat-kalimat dengan keterangan di bawahnya. Mazmur. Yohannes.

“Aku ingin tahu, untuk apa Nesya, Luna, dan Nada juga cewek-cewek lain iri kepadanya?» Danu mengutarakan pendapat. “Seharusnya, mereka iri pada ketekunan belajarnya. Pada perhatiannya kepada masyarakat di luar dirinya, pada kecerdasannya, dan pada keteguhan akidahnya.

Kamu tahu, Nu Najma berkata pelan. “Di luar akidahnya, aku ingin sekali mencontoh Pink. Dia gadis yang baik, dan bagiku kecantikannya hanya Anugerah Allah. Allah lebih tahu siapa yang berhak di beri amanah. Terus terang, aku tidak melihat Pink sebagai gadis yang sombong. Lebih aneh lagi, dia tidak malumenunjukkan jati dirinya. Aku pernah bertemu dengannya hari minggu saat menenteng Bibel.

Danu beranjak pamit.

“Tolong kembalikan buku pinjamaku pada Pink. pintanya. “Terus terang, aku lebih suka meminjam darimu atau dari Nesya, Luna, atau siapa saja. Kedekatanku dengan Pink membuatku terbebani.

Saat di pintu, langkah Danu terhenti sebentar. “Kamu tahu ... saat ini apa yang menggelitik perasaanku?”

“Apa?”

Kalau Pink tidak malu menunjukkan jati dirinya. Kenapa Nesya, Luna, Nada, dan muslimah lainnya harus malu ketahuan membawa Al-Qur’an pada hari minggu untuk datang ke pengajian sekolah?”

Najma mengangkat bahu.

“Dan kamu sendiri, Nu. Apa sekarang kamu masih malu sebagai seorang muslim setelah bertemu dengan Pink?”

Danu tertawa. Ya, memangnya untuk apa kita malu.


Dikutip dari kumpulan cerita islami berjudul 'Pink'

Selasa, Maret 17, 2009

Senin, Maret 16, 2009

Ninda's Photo









Cerpen

Janji Hati

Siang ini sepertinya merupakan siang terburuk disepanjang hidupku. Baru saja Ayah pulang dari sekolahkku untuk mengambil hasil ujian sekolah dan menunjukannya padaku, betapa terkejutnya aku ketika melihat angka lima pada mata pelajaran matematika. Jikapun dijumlahkan ketiga pelajaran itu tetap tak akan sampai 20, mana ada sekolah favorit yang mau menerimaku sebagai siswanya. Aku merasa menyesal mengapa waktu ujian aku begitu bersemangat meminta harapan palsu pada teman yang lain, padahal belum tentu aku tidak bisa mengerjakannya sendiri. Sia-sia sudah usahaku melewati hari-hari yang mencekik selama berminggu-minggu jika hasilnya amat sangat tidak memuaskan seperti ini. Ayah sendiri tidak berkomentar banyak masalah nilai ujianku yang buruk, beliau hanya menasehatiku agar selalu tetap belajar dan konsentrasi pada pelajaran.
“Dita, rencananya kamu memilih sekolah dimana?” tanya Ayah padaku saat aku sedang duduk-duduk diruang tamu sambil menonton televisi.
“Entahlah, Dita juga bingung. Nilai ujian yang jumlahnya dibawah 20 itu memang bisa masuk kemana” ujarku pasrah.
Drrrttt….Drrrttt…
Handphoneku tiba-tiba bergetar. Dengan cepat aku meraih Hp yang ada diatas meja itu dan melihatnya. Ternyata ada sms dari Lina, teman sebangku saat duduk di kelas IX dulu.
02/07/2008 03:24PM
Asslmkm.. Dita, Qm
rncnnya mau masukin
formulir pndftran kmn?
*** Akhir ***
Dengan cepat aku membalas smsnya dan kembali menggeletakkan Hp itu keatas meja. Aku merasa sekarang pikiranku sangat kacau. Aku baru tau ternyata begini rasanya mendapat nilai buruk. Rasanya semua perjuangan menghadapi ujian tak ada artinya lagi bagiku.
***
“Dita, kamu daftar dimana?” tanya Lina saat Ia sedang main kerumahku.
“Ke Man” jawabku lemas.
“Haah… ke Man? Nggak salah” Lina sedikit terkejut mendengar jawabanku.
Aku hanya mengangguk pelan tak bersemangat. Sejujurnya akupun tidak menginginkannya, tapi apa lagi yang bisa aku lakukan.
“Maaf ya sebelumnya, tapi apa ngaji kamu udah lancar? Dulu aja pas ngaji waktu mata pelajaran SBTQ tajwid kamu panjang semua. Ya meski tulisan arab kamu lumayan juga kan kalau ngajinya fals gitu sama aja bo’ong” ujar Lina yang mampu sedikit menyadarkanku. Sedang aku hanya bisa menatapnya pasrah.
***
Pikiranku sekarang sangat kacau, rasanya aku perlu refreshing sekedar untuk mendinginkan kepalaku. Aku memutuskan pergi untuk membeli makanan kecil ke Mini Market yang hanya berjarak ±2km dari rumahku. Setelah sampai disana dengan cepat Aku menghampiri penitipan barang untuk menitipkan jaketku. Pria penjaga tempat penitipan itu tersenyum ramah padaku, dengaan spontan Aku membalas senyum tulus itu.
Ketika barang belanjaan yang kurasa tidak terlalu banyak itu Aku rasa cukup, dengan buru-buru Aku ke kasir untuk meembayar barang belanjaanku. Tanpa pikir panjang lagi setelah selesai melakukan pembayaran, Aku segera melesat pulang karena matahari sudah mulai bersiap membenamkan tubuhnya disudut cakrawala.
***
Ayah sepertinya juga terlihat ragu saat aku mengatakan akan masuk ke Aliyah. Sejujurnya, Aku hampir tidak pernah mengerjakan shalat jadi wajar saja jika hafalan dan cara mengajiku cenderung banyak salahnya dari pada benarnya.
“Apa kira-kira kamu bisa diterima di Man, Dit? Saingan kamu masuk Man itu termasuk berat, apalagi rata-rata yang masuk ke Man adalah anak-anak lulusan MTs. Mereka pasti lebih terampil dari pada anak-anak lulusan SMP. Dari segi pendidikan dasar agama mereka jauh lebih unggul” komentar Ayah.
“Ya, Dita tau. Meskipun Shalat hampir nggak pernah, ngaji juga nggak pernah khatam, dan parahnya lagi waktu ngaji selalu fals, tapi Dita tetap optimis bisa masuk Man. Bukankah kita nggak boleh menyerah sebelum perang.. Benarkan Yah?” ujarku dengan penuh semangat.
Ayah hanya tersenyum simpul dan berlalu dari hadapanku. Sebenarnya apa yang baru saja Aku ucapkan, Aku juga tidak terlalu mengerti. Kata-kata itu seakan meluncur spontan dari mulutku. Biarlah, yang penting sekarang semangatku sudah kembali kalau sebenarnya aku bisa berusaha dan berjuang sendiri tanpa bantuan orang lain dan tetap tak bisa lepas dari rencana Allah SWT. Dan aku berjanji jika Aku sudah masuk Man nanti Aku akan mengenakan jilbab sebagai bentuk cintaku padaNya karena sudah memberiku kesempatan untuk merubah cara berpikir dan keimananku yang sebenarnya harus Aku pertanyakan pada diriku sendiri. Sudahkah Aku bisa bersyukur padaNya atas apa yang Dia berikan padaku.
***
Hari ini adalah hari pengumuman yang Aku tunggu-tunggu sejak seminggu yang lalu. Aku mulai berharap-harap cemas dengan hasil akhir ini. Saat melakukan ujian praktek penerimaan siswa baru Aku tidak merasa mendapatkan kesulitan yang berarti. Jadi Aku harus tetap optimis kalau Aku bisa masuk ke Man. Dengan jantung dag dig dug Aku mulai mencari namaku yang ada dipapan pengumuman, hingga akhirnya jari telunjukku berhenti pada sebuah nama ‘Dita Kumala Ayu’.
“Alhamdulillah” desisku pelan.
Hari itu juga Aku melakukan daftar ulang dan membeli segala perlengkapan sekolah ke ruang TU, karena sekolah Madrasah memakai baju yang berbeda dengan pelajar sekolah biasa yang lain. Akhirnya keinginanku untuk masuk Man tercapai juga dan inilah saatnya Aku melaksanakan janjiku untuk mengenakan jilbab dikehidupan sehari-hari dan berusaha untuk menjadi lebih baik lagi.
***
Tidak ada hari yang lebih membahagiakan dari pada hari ini, hari dimana Aku telah resmi menjadi murid Man yang duduk dikelas XC. Meskipun Aku telah terlambat satu hari dari hari yang telah ditentukan Aku tetap gembira. Tapi meski begitu pastilah Aku tidak akan mendapatkan kursi lagi.
“Assalamu’allaikum…” sapaku dengan suara yang tidak terlalu nyaring.
Mereka terliat bingung melihat kedatanganku, mungkin mereka pikir Aku adalah murid baru tapi mana mungkin dihari kedua masuk sekolah langsung ada murid baru pikirku asal.
“Uhmm…Maaf, apa nggak ada kursi lagi?” tanyaku pada salah satu temanku saat MOS kemarin.
“Nggak tau, kayanya nggak ada deh. Mending kamu minta kursi lagi aja sama Kakak-kakak dari Osis” ujarnya.
Aku hanya tersenyum dan segera berlalu dari hadapannya untuk menemui Ka Azim yang kebetulan dulu juga adalah Kakak kelasku waktu SMP dulu. Dialah yang kemarin menjagaku dari Kakak-kakak Osis kejam yang lain.
Akhirnya Aku bisa berlega hati ketika bangku itu sudah ada ditanganku. Dengan pikiran yang campur aduk Aku merencanakan apa saja yang akan Aku lakukan hari ini. Aku berencana pergi ke Mini Market lagi untuk membeli makanan kecil. Dan tak sabar untuk segera pulang dan menumpahkan segala kebahagiaanku hari ini pada lembaran-lembaran kertas yang selalu menjadi temanku.
***
Setelah selesai berbelanja dan membayar barang belanjaan Aku ke kasir, Aku pun berjalan menghampiri tempat penitipan barang itu lagi untuk mengambil jaket yang tadi Aku titipkan.
“Mbak lebih cantik pakai jilbab dari pada nggak pake jilbab, terlihat lebih manis dari yang kemarin” ujarnya sambil tersenyum.
Aku hanya tersenyum menanggapinya dan berpikir kalau sebenarnya Allah itu sangat pemurah lagi Maha Pengasih pada umatnya. Dari sini Aku bisa lebih menghargai hidup dan berusaha untuk lebih baik ketika menghadapi sebuah masalah. Ya Allah, beginikah rencana yang telah Engkau persiapkan untukku, hambaMu ini sungguh lemah tanpaMu dan hanya dibawah kekuasaanMu Aku dapat menyandarkan hatiku.

O'Clock


Make your own Countdown Clocks

My Web

Sim Pets

Pengikut