“Suiiit!!! Hehehe …!”
“Gile, cing! Cantik banget!”
“Buset …! Senyumnya itu …”
“Ssst, anak mana sih dia? Baru, ya?”
“Pindahan kali. Belum pernah lihat, sih!”
Benar-benar pemandangan yang mengesankan pada pagi hari.
Saat sekolahbelum terlalu rami, di bawah rimbunnya pohon beringin yang tumbuh di tepi lapangan upacara, seorang gadis melintas. Wajahnya mengingatkan pada seorang selebritis muda yang sering muncul di televise. Alisnya melengkung rapi, menaungi sepasang mata yang jenaka. Sepasang lesung pipit muncul setiap kali senyumnya mengembang. Rambutnya terurai hitam dan halus, membingkai indah wajah pualamnya. Entah siapa yang berjumpa dengannya pasti akan berpendapat sama. Bahwa, seolah Tuhan memahat khusus wajahnya dengan sempurna.
“Sok banget dia!” sembur Nesya. Mulutnya menebal beberapa mili.
“Sok ramah lagi,”Luna menimpali. Duet terpanas tahun ini saling mengompori.
“Berlagak innocent padahal dibelakangnya huuu... siapa tahu?!”
“Tunggu aja beberapa lama, pasti pamornya juga turun.”
“Duilee...” Nada muncul tiba-tiba mnyeruak. “Penyakit kambuhan para cewek. Cemburuan!” sambungnya.
“Ups, sorry la ya!” Nesya mendelik. “Nggak bakal senior iri sama yunior. Lagian, tampangnya nggak cakep-cakep amat, kok. Cuma menang putih doang!”
“Tapi tetep menang, kan?” goda Nada.
“Kamu santai amat sih. Nad. Tunggu sampai dia main lirik-lirikkan sama Ade.”
Senyum di wajah Nada lenyap. Rahangnya menegang kaku.
“Kalau sampai dia berani, ... awas!”
Bertiga mereka memandang sosok gadis yang berjalan pelan memasuki kelasnya di deretan paling ujung. Kalau saja Dia sempat mengawasi tifa pasang mata milik Nesya, Nada, dan Luna Ia pasti bergidik. Ibarat penyihir yang bersiap mengubah mangsanya menjadi kodok.
SMU Utama saat ini sedang di terpa gosip. Kalau biasanya kabar burung berkisar seputar kisi-kisi ulangan umum, guru yang kolusi dengan murid bimbingan les, siswa yang masuk lewat jalur ‘belakang’, maka sekarang tambah satu lagi berita hangat. Apa saja yang terjadi di SMU Utama, merupakan santapan panas yang nikmat di dengar telinga. Termasuk gadis baru pindahan dari Jakarta, Pink. Pink Jessica.
“Mau taruhan?” Danu bertanya pada teman-temannya, para penghuni kelas II-I. Anak-anak dari kelas lain turut bergabung mencari keramaian. Obrolan di kalangan cowok pun tak beda jauh.
“Taruhan apa?”Bimo mengerutkan kening.
“Siapa yang dapat memikat Pink,” Danu menggulirkan ide. Para cowok menajamkan pendengaran mereka masing-masing. “Kita belikan tiket nonton gratis selama sebulan tiap minggunya, untuk dua orang.”
“Aku rasa tanpa iming-imingpun tiket gratis pun setiap cowok bakal mau punya pacar sekece Pink,” Tris terkekeh.
“Ngomong-ngomong dia udah punya pacar belum?” Zaki melontarkan pertanyaan.
“Alaaa… cuek aja,”Dio angkat bahu. “Sudah punya pacar atau belum tetap terbuka kesempatan. Yang penting kita bersaing sehat.”
Mereka saling merapatkan kepala seakan membicarakan sebuah rahasia.
“Bener, ya?” bisik Yanto. “Kita bersaing sehat, lho! Nggak ada yang boleh dendam, atau main pukul-pukulan kalau di antara kita ada yang sukses!”
“Oke!”
“Beres!”
“Siiip! Setuju!”
***
Perburuan pun dimulai.
Seperti cerita legenda lama yang mengisahkan para pangeran yang berebut putrid dengan mengikuti sayembara, begirulah perburuan memikat hati Pink. Gadis imut yang sedang di gandrungi anak-anak SMA Utama mulai dari cowok kelas satu hingga kelas tiga.
Ada yang sering menelpon, ada yang rajin mengirim SMS. Mengirim lagu lewat Radio, mengirim surat bahkan ungkapan cinta abadi yang tak pernah usang say with roses.
Tetapi, tampaknya senyum Pink tetap terbuka untuk semua orang. Untuk setiap cowok yang memandangnya dengan hati kesetrum, senyum yang juga teruntuk bagi kalangan cewek yang menerimanya dengan hati berdenyut masam. Tak seharipun terlewatkan di SMU Utama tanpa pembicaraan tentang Pink.
Pink yang kemarin berangkat bimbinga les. Pink hari ini pilek. Kemarin, bertemu Pink di jalan. Pink mau berangkat berenang. Pink berniat kursus bahasa Mandarin. Orangtua Pink di Jakarta.
“Nggak ada habis-habisnya tuh orang,” sungut Nesya. Semakin hari, bibirnya semakin tebal menggerutu.
“Siapa?!” Luna berlagak bego.
“Siapa lagi!”
“Lho? Kok, pagi-pagi aku kena semprot?” Luna semakin memasang tampang tak tahu.
“Anak baru itu...!”
“Mana ada anak baru sih?”
“Aduh kamu,” Nesya memandang gemas. Sohibnya sudah ketularan Nada yang suka usil. “Ya si Pinky Jessica itu”
“Diakan udah stok lama, lagi...”.
Nesya mendengus.
“Hanya karena dia flu dan nggak masuk sehari aja, cowok-cowok keganjenan itu ributnya bukan main,” Nesya melanjutkan umpatannya. Hatinya perih sekaligus kesal mengingat Ia sempat absen seminggu karena demam paratipus tak satupun teman menjenguknya. Maksudnya teman cowok. Kalau Luna dan Nada sih, iya.
“Ngomongin dia melulu rugi, Nes” Luna menentramkan. “Mending kamu belajar Kimia buat ulangan nanti.”
Nesya menarik napas panjang.
“Katanya anak itu jago kimia,” desahnya. Luna terpekur dengan buku konfigurasi elektronnya.
“Bukan Cuma kimia,” Nesya malas membuka catatan. “Fisika dan matamatikanya oke. English-nya juga gape.”
Berdua, mereka lalu tenggelam dalam buku masing-masing. Pagi itu SMU Utama masih berselimut dingin. Maklum, tadi malam hujan deras mengguyur. Saat matahari terbit pun masih tersisa rintik. Tak heran jam tujuh kurang lima hanya sedikit yang berebut bangku. Pasti bila terlambat alasannya sama, hujan. Dan, Pak Probo yang mengisi jam pertama dengan matematika akan memberikan nasihat sama. “Dahulu, tidak pakai sepatu pun saya berangkat sekolah tak peduli panas hujan. Anak sekarangmalas-malasan! Ada mobil, ada sepeda motor, punya sepatu, apalagi tas dan seragam tetap saja malas. Mau jadi apa kalian?” wajahnya yang keriput makin tampak terlihat sedih.
“Kira-kira, dia malah siapa buat di jadikan pacar, ya?” Nesya memandang Luna yang tengah berkomat-kamit di sampingnya.
Luna mengangkat kepala tetapi menatap lurus ke papan tulis. Sedetik kemudian, matanya terpejam dengan mulut tetap bergerak-gerak.
“Apa Danu? Atau Zaki? Tris? Atau ...”
“Astagfirullaaaah ... Nesya,” Luna memotong kesal. “Kamu juga cari penyakit. Ngapain lagi sibuk ngomongin dia? Biar aja dia di konsumsi cowok, tapi nggak usah kita ikut-ikutan.”
Nesya menghentikan pengaduan, tetapi bukan berarti rasa kesalnya terhenti. Ia menutup buku catatan setengah membanting. Semenit dai keseriusan mereka kembali belajar. Nada melangkah masuk dengan wajah sembap. Nesya dan Luna berpandangan dengan alis terangkat.
“Sudah siap, Da? Luna mencoba membuka pembicaraan.
Nada menggeleng lemah.
“Lho, tapi kamu tahu kan hari ini ada ulangan kimia?” Nesya mengerutkan kening.
Nada tersenyum samar.
Sesaat sebelum bel masuk berdentang Luna tak dapat menyembunyikan rasa penasaran.
“Kamu ada masalah?” Nada terdiam.
“Dengan Ade ya?” Nada hanya memandangnya sedih.
“Anak brengsek itu ikut taruhan teman-temannya untuk mendapatkan Pink.” Ujar Nada tersendat.
***
Tris membanting tasnya. “Aku gagal, Men!” ujarnya kaku. Danu, Zaki, Ade, dan Yanto berkerumun ingin tahu.
“Memang gimana ceritanya?” Danu melipat dua lengannya di depan dada. “Kamu di tolak?”
“Nggak tepat begitu ...” Tris menggelengkan kepala.
“Terus?”
“Yaaa ... dia bilang nggak mau pacaran untuk saat ini,”Tris menjelaskan. “Mau konsentrasi belajar dulu.”
“Itukan lagu lama cewek,”Ade tersenyum simpul. “Kalau belum ketemu yang dia suka, ada aja alasannya”
“Begitu ya?” Tris mengepalkan tinjunya geram. “Jadi pingin lihat, seperti apa seleranya Pinky.”
“Ingat, jangan melibatkan emosi.”Danu mengingatkan.
“Iya, iya,” Tris memotong gusar. “Aku bukannya ingin berantem. Cuma penasaran aja.”
Danu mengangkat bahu.
“Ya sudah,” Ia menepuk bahunya. “Santai aja, Tris. Cari cewek lain.”
Tanpa direncanakan, beberapa pasang mata itu tertuju serempak ke arah Danu.
“Lho? Kenapa?”
“Kamu belum mencoba, Nu”
“Iya. Hanya kamu yang belum mencoba mendekati cewek itu.” Dano terdiam.
“Aku kan nggak modal,” Ia teringat kesehariannya yang hanya naik bus kota dan sepatu kets hitam warisan abangnya.
“Kita kan sepakat untuk bersaing” tantang Zaki.
Tris mengangguk setuju.
Dua bulan lalu.
Danu belum rajin ke mushalla. Sesekali saja tempat mungil yang rapi dan wani di ujung sekolah itu menjadi tempat persembunyiannya untuk melarikan diri dari hukuman guru jika lupa mengerjakan tugas. Atau, Menjadi tempat nyaman untuk tidur saat waktu istirahat karena mengantuk semalaman begadangmenonton Liga Italia.
Saat itu, sesekali matanya tertumbuk pada artikel di dnding. Terkadang geli juga membaca anekdot atau goresan gambar kartun di sana. Anak-anak mushalla ternyata tidak kampungan. Gaul. Malah, ada gosip seputar sekolah yang enak di baca. Anatara lain, profil guru dan kisi-kisi soal. Jadinya, tidak sibuk membolak-balik buku saat di umumkan minggu depan akan di adakan ulangan. Lama kelamaan, Ia sadar tentang ide gilanya mengenai perburuan Pinky. Tapi yah, Ia terlanjur menggulirkannya.
Padahal beberapa hari lalu, hatinya tergelitik membaca artikel sepuluh kerugian berpacaran. Satu, rugi keuangan. Pintar cari uang aja belum, sudah mau ngasih makan (baca:mentraktir) anak orag. Dua, rugi waktu. Waktu yang bisa di gunakan untuk bersantai(nonton bola, misalnya) habis untuk memikirkan si dia lagi ngapain. Tiga, rugi masa depan. Mending buat mempersiapkan diri masuk PTN favorit dari pade ngajak-ngajak si die sepanjang jalan kenangan. Empat, rugi harga diri. Kalau adik atau emak yang ngambek kita sudah balik ngamuk. Eh, giliran si dia marah-marah karena ban motor kempes misalnya, si cowok adem aja.
“Hei Dan?!”
“Ngelamun, ni yee!”
“Sudah ngebayangin malam minggu nanti bakal keluar sama Pink,” Ade menonjok bahunya pelan. “Taruhan lima puluh ribu, uang mingguanku, kalau kamu bisa ngajak dia keluar nonton film.”
Danu hanya melongo.
***
Pinky Jessica.
Gadis cantik anak SMU Utama yang terkenal tidak hanya di sekolahnya sendiri, tetapi juga ke sekolah-sekolah lainnya. Apalagi SMU Utama memang di nilai sekolah favorit. Tidak hanya murid-muridnya jago dalam prestasi akademis, tetapi juga dalamberbagai kegiatan eskul. Makanya, Danu bersyukur dapat masuk ke SMU ini setelah melewati seleksi NEM yang ketat.
Danu pada akhirnya memberanikan diri endatangi tempat kost Pink saat malam minggu berbekal nekat. Ia punya bekal apa? Mobil tidak punya. Boro-boro HP, telepon di rumahnya pun sering nunggak. Danupun merasa wajahnya tidak kece-kece amat.
Malam minggu itu, Danu mendatangi Pink. Ia harus bersaingdengan banyak pemuda. Akhirnya dia berhasil mengajak Pink jalan-jalan. Satu hari dalam hidupnya yang tidak akan pernah dia lupakan sepanjang hidupnya.
***
Najma membetulkan letak jilbabnya.
Siapa yang minggu pagi begini sudah datang bertamu? Sekilas di liriknya jam dinding. Memang sudah jam sembilan lewat seperempat, tapi seingatnya tak ada janji dengan siapa punhari ini. Kecuali memang rencana siang nanti rujakan bersama teman-teman rohis sekalian mengerjakan Mading.
Najma benar-benar terkejut melihat sosok di hadapannya. Teman sekelas yang tak terlalu dekat dengannya.
“Da … nu?”
“Sorry …,” Danu tampak gugup. “Kaget ya?”
“Ya.. ya..,” Najma benar-benar surprised.
“Aku tadi ke rumah Tris sama Yanto, cari pinjaman buku Fisika. Hari rabu kita ulangan, kan?”
Najma mengangguk, tetap belum berkata apa-apa.
“Ada?”
Alis mata Najma terangkat sejenak.
“Oh ya, ada. Tapi catatanku tidak terlalu rapi, banyak coretannya.” Danu hanya tersenyum,
“Nggak apa-apa. Tapi boleh pinjam kan?”
Najma masuk ke kamar mencari buku Fisika. Ia menyerahkan catatan dengan dahi sedikit berkerut.
“Sebenarnya ... “Danu ragu sejenak. “Aku ... aku sudah pinjam sama Pink”
“Ooooh, anak pindahan dari Jakarta yang cantik itu...” Danu mengangguk pelan.
“Terus?”
“Yaaa, aku memang perlu catatan Fisika. Ku dengar dia ikut bimbingan belajar di beberapa tempat.”
“Kalau begitu catatanya pasti lengkap” ujar gadis itu. “Sebetulnya, aku juga sekelas dengannya di bimbingan belajar. Pasti catatanku dan Pink nggak beda jauh”
“Pasti beda” Danu menegaskan. “Bagaimana Pink sebenarnya?”
“Pink gadis yang cantik. Sangat cantik. Selain itu orangnya hangat, enak di ajak ngobrol, ramah, dan nggak sombong” ujarnya. “Juga sangat pintar” Danu menambahkan.
“Kamu tahu kalau dia sering ke SLB atau rumah panti asuhan tiap hari minggu?” Danu bertanya saat Najma kembali dengan dua buah gelas sirup.
“Oya?”
“Ya, menyisihkan sedikit uang sakunya untuk anak-anak malang disana.” Najma berdecak.
“Apalagi predikat yang bisa kita tambahkan?” tanyanya pada Danu. “Pintar, cantik, kaya, berhati malaikat”
“Hanya sayang ..” Danu memukul lututnya sendiri.
“Sayang?!”
“Ya, sayang. Gadis secantik itu. Sebaik dia.”
Najma mendengarkan dalam diam.
Aku terpojok ketika dia menjawab pertanyaanku untuk apa rajin bermain ke panti asuhan.”
“Apa katanya?”
“Kita harus menyebarkan kasih Tuhan.”
Najma menahan senyum. Jadi Danu baru tahu., bisik hatinya.
“Aku terkejut ketika meminjam catatannya”Danu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Di sampul depan tertulis kalimat-kalimat dengan keterangan di bawahnya. Mazmur. Yohannes.”
“Aku ingin tahu, untuk apa Nesya, Luna, dan Nada juga cewek-cewek lain iri kepadanya?» Danu mengutarakan pendapat. “Seharusnya, mereka iri pada ketekunan belajarnya. Pada perhatiannya kepada masyarakat di luar dirinya, pada kecerdasannya, dan pada keteguhan akidahnya.”
“Kamu tahu, Nu” Najma berkata pelan. “Di luar akidahnya, aku ingin sekali mencontoh Pink. Dia gadis yang baik, dan bagiku kecantikannya hanya Anugerah Allah. Allah lebih tahu siapa yang berhak di beri amanah. Terus terang, aku tidak melihat Pink sebagai gadis yang sombong. Lebih aneh lagi, dia tidak malumenunjukkan jati dirinya. Aku pernah bertemu dengannya hari minggu saat menenteng Bibel.”
Danu beranjak pamit.
“Tolong kembalikan buku pinjamaku pada Pink.” pintanya. “Terus terang, aku lebih suka meminjam darimu atau dari Nesya, Luna, atau siapa saja. Kedekatanku dengan Pink membuatku terbebani.”
Saat di pintu, langkah Danu terhenti sebentar. “Kamu tahu ... saat ini apa yang menggelitik perasaanku?”
“Apa?”
“Kalau Pink tidak malu menunjukkan jati dirinya. Kenapa Nesya, Luna, Nada, dan muslimah lainnya harus malu ketahuan membawa Al-Qur’an pada hari minggu untuk datang ke pengajian sekolah?”
Najma mengangkat bahu.
“Dan kamu sendiri, Nu. Apa sekarang kamu masih malu sebagai seorang muslim setelah bertemu dengan Pink?”
Danu tertawa. Ya, memangnya untuk apa kita malu.
Dikutip dari kumpulan cerita islami berjudul 'Pink'