Hai.. Thanks yach udah mau ngintip blog aku..

My Profile

Foto saya
Banjarmasin, Kal-Sel, Indonesia
Aku anak ke empat dari 4 bersaudara. Dengan ke tiga kakak yang semuanya laki-laki. Meski cukup sulit untuk saling akur satu sama lain.

Familiy

Senin, Maret 16, 2009

Cerpen

Janji Hati

Siang ini sepertinya merupakan siang terburuk disepanjang hidupku. Baru saja Ayah pulang dari sekolahkku untuk mengambil hasil ujian sekolah dan menunjukannya padaku, betapa terkejutnya aku ketika melihat angka lima pada mata pelajaran matematika. Jikapun dijumlahkan ketiga pelajaran itu tetap tak akan sampai 20, mana ada sekolah favorit yang mau menerimaku sebagai siswanya. Aku merasa menyesal mengapa waktu ujian aku begitu bersemangat meminta harapan palsu pada teman yang lain, padahal belum tentu aku tidak bisa mengerjakannya sendiri. Sia-sia sudah usahaku melewati hari-hari yang mencekik selama berminggu-minggu jika hasilnya amat sangat tidak memuaskan seperti ini. Ayah sendiri tidak berkomentar banyak masalah nilai ujianku yang buruk, beliau hanya menasehatiku agar selalu tetap belajar dan konsentrasi pada pelajaran.
“Dita, rencananya kamu memilih sekolah dimana?” tanya Ayah padaku saat aku sedang duduk-duduk diruang tamu sambil menonton televisi.
“Entahlah, Dita juga bingung. Nilai ujian yang jumlahnya dibawah 20 itu memang bisa masuk kemana” ujarku pasrah.
Drrrttt….Drrrttt…
Handphoneku tiba-tiba bergetar. Dengan cepat aku meraih Hp yang ada diatas meja itu dan melihatnya. Ternyata ada sms dari Lina, teman sebangku saat duduk di kelas IX dulu.
02/07/2008 03:24PM
Asslmkm.. Dita, Qm
rncnnya mau masukin
formulir pndftran kmn?
*** Akhir ***
Dengan cepat aku membalas smsnya dan kembali menggeletakkan Hp itu keatas meja. Aku merasa sekarang pikiranku sangat kacau. Aku baru tau ternyata begini rasanya mendapat nilai buruk. Rasanya semua perjuangan menghadapi ujian tak ada artinya lagi bagiku.
***
“Dita, kamu daftar dimana?” tanya Lina saat Ia sedang main kerumahku.
“Ke Man” jawabku lemas.
“Haah… ke Man? Nggak salah” Lina sedikit terkejut mendengar jawabanku.
Aku hanya mengangguk pelan tak bersemangat. Sejujurnya akupun tidak menginginkannya, tapi apa lagi yang bisa aku lakukan.
“Maaf ya sebelumnya, tapi apa ngaji kamu udah lancar? Dulu aja pas ngaji waktu mata pelajaran SBTQ tajwid kamu panjang semua. Ya meski tulisan arab kamu lumayan juga kan kalau ngajinya fals gitu sama aja bo’ong” ujar Lina yang mampu sedikit menyadarkanku. Sedang aku hanya bisa menatapnya pasrah.
***
Pikiranku sekarang sangat kacau, rasanya aku perlu refreshing sekedar untuk mendinginkan kepalaku. Aku memutuskan pergi untuk membeli makanan kecil ke Mini Market yang hanya berjarak ±2km dari rumahku. Setelah sampai disana dengan cepat Aku menghampiri penitipan barang untuk menitipkan jaketku. Pria penjaga tempat penitipan itu tersenyum ramah padaku, dengaan spontan Aku membalas senyum tulus itu.
Ketika barang belanjaan yang kurasa tidak terlalu banyak itu Aku rasa cukup, dengan buru-buru Aku ke kasir untuk meembayar barang belanjaanku. Tanpa pikir panjang lagi setelah selesai melakukan pembayaran, Aku segera melesat pulang karena matahari sudah mulai bersiap membenamkan tubuhnya disudut cakrawala.
***
Ayah sepertinya juga terlihat ragu saat aku mengatakan akan masuk ke Aliyah. Sejujurnya, Aku hampir tidak pernah mengerjakan shalat jadi wajar saja jika hafalan dan cara mengajiku cenderung banyak salahnya dari pada benarnya.
“Apa kira-kira kamu bisa diterima di Man, Dit? Saingan kamu masuk Man itu termasuk berat, apalagi rata-rata yang masuk ke Man adalah anak-anak lulusan MTs. Mereka pasti lebih terampil dari pada anak-anak lulusan SMP. Dari segi pendidikan dasar agama mereka jauh lebih unggul” komentar Ayah.
“Ya, Dita tau. Meskipun Shalat hampir nggak pernah, ngaji juga nggak pernah khatam, dan parahnya lagi waktu ngaji selalu fals, tapi Dita tetap optimis bisa masuk Man. Bukankah kita nggak boleh menyerah sebelum perang.. Benarkan Yah?” ujarku dengan penuh semangat.
Ayah hanya tersenyum simpul dan berlalu dari hadapanku. Sebenarnya apa yang baru saja Aku ucapkan, Aku juga tidak terlalu mengerti. Kata-kata itu seakan meluncur spontan dari mulutku. Biarlah, yang penting sekarang semangatku sudah kembali kalau sebenarnya aku bisa berusaha dan berjuang sendiri tanpa bantuan orang lain dan tetap tak bisa lepas dari rencana Allah SWT. Dan aku berjanji jika Aku sudah masuk Man nanti Aku akan mengenakan jilbab sebagai bentuk cintaku padaNya karena sudah memberiku kesempatan untuk merubah cara berpikir dan keimananku yang sebenarnya harus Aku pertanyakan pada diriku sendiri. Sudahkah Aku bisa bersyukur padaNya atas apa yang Dia berikan padaku.
***
Hari ini adalah hari pengumuman yang Aku tunggu-tunggu sejak seminggu yang lalu. Aku mulai berharap-harap cemas dengan hasil akhir ini. Saat melakukan ujian praktek penerimaan siswa baru Aku tidak merasa mendapatkan kesulitan yang berarti. Jadi Aku harus tetap optimis kalau Aku bisa masuk ke Man. Dengan jantung dag dig dug Aku mulai mencari namaku yang ada dipapan pengumuman, hingga akhirnya jari telunjukku berhenti pada sebuah nama ‘Dita Kumala Ayu’.
“Alhamdulillah” desisku pelan.
Hari itu juga Aku melakukan daftar ulang dan membeli segala perlengkapan sekolah ke ruang TU, karena sekolah Madrasah memakai baju yang berbeda dengan pelajar sekolah biasa yang lain. Akhirnya keinginanku untuk masuk Man tercapai juga dan inilah saatnya Aku melaksanakan janjiku untuk mengenakan jilbab dikehidupan sehari-hari dan berusaha untuk menjadi lebih baik lagi.
***
Tidak ada hari yang lebih membahagiakan dari pada hari ini, hari dimana Aku telah resmi menjadi murid Man yang duduk dikelas XC. Meskipun Aku telah terlambat satu hari dari hari yang telah ditentukan Aku tetap gembira. Tapi meski begitu pastilah Aku tidak akan mendapatkan kursi lagi.
“Assalamu’allaikum…” sapaku dengan suara yang tidak terlalu nyaring.
Mereka terliat bingung melihat kedatanganku, mungkin mereka pikir Aku adalah murid baru tapi mana mungkin dihari kedua masuk sekolah langsung ada murid baru pikirku asal.
“Uhmm…Maaf, apa nggak ada kursi lagi?” tanyaku pada salah satu temanku saat MOS kemarin.
“Nggak tau, kayanya nggak ada deh. Mending kamu minta kursi lagi aja sama Kakak-kakak dari Osis” ujarnya.
Aku hanya tersenyum dan segera berlalu dari hadapannya untuk menemui Ka Azim yang kebetulan dulu juga adalah Kakak kelasku waktu SMP dulu. Dialah yang kemarin menjagaku dari Kakak-kakak Osis kejam yang lain.
Akhirnya Aku bisa berlega hati ketika bangku itu sudah ada ditanganku. Dengan pikiran yang campur aduk Aku merencanakan apa saja yang akan Aku lakukan hari ini. Aku berencana pergi ke Mini Market lagi untuk membeli makanan kecil. Dan tak sabar untuk segera pulang dan menumpahkan segala kebahagiaanku hari ini pada lembaran-lembaran kertas yang selalu menjadi temanku.
***
Setelah selesai berbelanja dan membayar barang belanjaan Aku ke kasir, Aku pun berjalan menghampiri tempat penitipan barang itu lagi untuk mengambil jaket yang tadi Aku titipkan.
“Mbak lebih cantik pakai jilbab dari pada nggak pake jilbab, terlihat lebih manis dari yang kemarin” ujarnya sambil tersenyum.
Aku hanya tersenyum menanggapinya dan berpikir kalau sebenarnya Allah itu sangat pemurah lagi Maha Pengasih pada umatnya. Dari sini Aku bisa lebih menghargai hidup dan berusaha untuk lebih baik ketika menghadapi sebuah masalah. Ya Allah, beginikah rencana yang telah Engkau persiapkan untukku, hambaMu ini sungguh lemah tanpaMu dan hanya dibawah kekuasaanMu Aku dapat menyandarkan hatiku.

O'Clock


Make your own Countdown Clocks

My Web

Sim Pets

Pengikut